close -->
close
0

Alquran adalah sumber kemuliaan. Siapapun yang menjadikan Alquran sebagai panduan hidup, maka tidak ada yang akan dia dapatkan selain kemuliaan (QS Al-Anbiyaa [21]: 10). Namun, siapa pun yang berpaling dari tuntutan Alquran, maka Allah akan memberikan kesempitan dalam hidupnya (QS Thahaa [20]: 124).
Karena itu, syarat paling mendasar dalam berinteraksi dengan Alquran adalah bagaimana kita mampu menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup sehari-hari.

Ada empat keuntungan yang akan kita peroleh bila berinteraksi dengan Alquran. Pertama, melahirkan jiwa yang sabar. Banyak kisah tentang cobaan berat yang menimpa para pejuang Islam. Mereka diintimidasi, disiksa, dipenjarakan, bahkan dibunuh. Namun kebersamaannya dengan Alquran membuat mereka menjadi orang-orang yang sangat tabah. Nadimah Khatul, seorang mujahidah Afghanistan, contohnya. Beliau dipenjarakan oleh kaum komunis selama enam tahun. Dan ia mengatakan, "Kami mengalami berbagai siksaan berat. Namun membaca dan mengkaji Alquran membantu kami bersabar dan bertahan menghadapinya".

Kedua, melembutkan hati. Seorang ulama mengatakan, "Sesungguhnya hati itu mengkristal sebagaimana mengkristalnya besi, maka lembutkanlah ia dengan Alquran".

Ketiga, mengokohkan hati. Difirmankan, Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu (QS Hud [11]: 120).

Keempat, sebagai nasihat dan obat tatkala hati sedih dan gundah. Allah SWT berfirman, Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasihat dari Tuhanmu dan obat bagi yang ada di dalam dada, petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS Yunus [10]: 57).

Cara berinteraksi dengan Alquran
Hidup bersama Alquran adalah kenikmatan tiada tara. Lalu, bagaimana cara mendapatkannya? Langkah pertama adalah membacanya (tilawah). "Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab mereka senantiasa membacanya dengan sebenar-benarnya bacaan (haqqut tilawah), mereka itulah orang-orang yang beriman kepadanya..." (QS Al-Baqarah [2]: 121).

Haqqut tilawah dalam ayat tersebut adalah berfungsinya lisan, akal, dan hati ketika melantunkan Alquran. Lisan berfungsi dengan baik ketika mampu mentartikannya. Berfungsinya akal adalah dengan memahami isi ayat yang dilantunkan. Sedangkan berfungsinya hati adalah dengan merenungkan nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya.

Dikisahkan, Imam Rafi�i bin Mahran pernah menderita penyakit akalah, yaitu sejenis tumor tulang pada bagian lutut. Satu-satunya cara untuk menghilangkan penyakit tersebut adalah dengan mengamputasi kaki. Waktu itu dokter menawarkan khamr untuk meredam rasa sakit tatkala proses amputasi dilakukan. Tapi Imam Rafi�i menolak dan ia mengatakan, "Aku punya obat yang lebih mujarab dari apa yang engkau tawarkan kepadaku. Datangkan saja kepada saya seorang qari."

Selanjutnya ia berkata, "Dokter, apabila ayat Alquran tengah dilantunkan dan anda melihat muka saya memerah dan mata saya terbelalak, itulah saat yang tepat untuk memotong kaki saya".

Ketika qari melantunkan ayat-ayat Alquran, memerahlah muka serta terbelalaklah mata Imam Rafi�i. Khususnya saat ia mendengar ayat yang berisi peringatan serta ancaman Allah SWT Imam Rafi�i merasakan seolah-olah ancaman itu ditujukan pada dirinya. Saat itulah dokter mulai memotong urat-urat serta menggergaji tulang kaki. Subhanallah, tidak terdengar satu pun keluhan yang keluar dari mulut lelaki saleh ini.

Mengkaji Alquran
Setelah membaca, interaksi seorang Muslim dengan Alquran adalah mengkaji serta memahaminya. Hal ini tidak terlepas dari fungsi Alquran sebagai pedoman hidup (QS Al-Baqarah [2]: 2).

Secara redaksional, Alquran diturunkan dalam bahasa Arab. Akibatnya, kita tidak bisa merealisasikan fungsi Alquran sebagai petunjuk bila Alquran hanya dibaca saja. Karena itu, memahami Alquran secara baik dan benar menjadi kewajiban seorang Muslim.

Ada beberapa syarat yang ditetapkan para ulama agar tidak terjadi penyimpangan dalam menafsirkan Alquran, di antaranya: (1) Memiliki akidah yang benar, (2) Bersih dari hawa nafsu, (3) Adil, (4) Memiliki pengetahuan bahasa Arab. Sebab, Allah SWT menurunkan Alquran dalam bahasa Arab (lihat QS Az-Zukhruf [43]: 2), dan (5) Menguasai ilmu-ilmu Alquran.

Memahami Alquran
Pertama, memahami Alquran dengan Alquran itu sendiri (tafsir quran bil quran). Sesungguhnya Alquran merupakan penjelas yang membenarkan satu bagian dengan bagian lainnya. Rasulullah SAW bersabda, "Ssementara Allah menurunkan kitab-Nya untuk saling membenarkan satu sama lain." (HR Bukhari).

Contoh ayat yang ditafsirkan dengan ayat lain: Dalam QS Al-Fatihah [1] ayat 7, ��(yaitu) orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka.�� Dalam ayat ini tidak dijelaskan siapa orang-orang yang diberikan nikmat itu. Maka Allah SWT menjelaskan dalam QS An-Nisa [4] ayat 69, ��Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya) mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.��

Kedua, Memahami Alquran dengan sunah nabi yang shahih. Ibnu Taimiyyah berkata, "Cara yang paling shahih dalam memahami Alquran adalah menafsirkan Alquran dengan Alquran. Jika engkau tidak menemukan itu maka engkau mengambil sunnah, karena ia adalah penjelas Alquran".

Imam Syafi�i mengatakan bahwa seluruh apa yang dihukumkan oleh Rasulullah SAW adalah dari apa yang beliau dapat dari Alquran. Contoh pemahaman Alquran dengan sunah: dalam Alquran ada beberapa ayat yang memerintahkan shalat. Namun, penjelasan bagaimana melakukan shalat hanya akan kita temukan dalam sunnah. Rasulullah SAW bersabda, "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat."

Ketiga, memahami Alquran dengan pemahaman para sahabat dan tabi�in. Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Jika engkau tidak menemukan tafsir dalam satu ayat Alquran, tidak juga dalam sunah, maka engkau harus mencarinya dalam perkataan para sahabat. Mereka paling mengetahui hal itu, sebab mereka melihat (qarain) situasi yang terjadi pada saat Alquran itu diturunkan. Ditambah dengan ketinggian kemampuan bahasa dan kejernihan pemahaman mereka."

Contoh, pemahaman mereka terhadap kalimat "jalan yang lurus" dalam QS Al-Fatihah [1] ayat 6. Maksudnya adalah Islam atau Alquran atau sunnah Nabi atau sunah Khulafaur Rasyidin.

Pemahaman yang benar terhadap Alquran akan melahirkan sikap yang benar. Insya Allah

Dikirim pada 08 Januari 2010 di Al-Qur’an


Surah Al Fiil

Artinya :
" Apakah tidak kamu perhatikan, bagaimana Allah Swt bertindak atas tentara gajah, bukankah Allah telah menjadikan tipu daya mereka itu sia sia belaka. Dan Allah telah mengirim atas mereka itu burung burung kecil Ababil yang berbondong - bondong, dan burung burung itu melempari mereka dengan batu batu kecil yang terbakar dari neraka sijjiin. Dan Allah menjadikan mereka itu seperti daun kayu yang dimamah (dimakan) ulat "
Qoola rasuulullahi sallallahu ’alaihi wa sallam, "man ahya bissunnati fakod ahabbanii, wa man ahabbani kaana ma’aani fil jannah." Arti : "Rasul bersabda, barangsiapa yang menghidupkan sunnahku berarti telah cinta kepadaku, dan barangsiapa yang mencintai aku akan bersama dengan aku kelak di surganya Allah Swt."

Nabi Muhammad manusia seperti kita, "kul innamaa ana basyarum mis lukum", katakanlah hai Muhammad, aku ini (nabi Muhammad) adalah manusia seperti kamu", tapi tidak serupa dengan kita. Jangan kita merasa sudah seperti Nabi. Kita ini dengan Nabi sangat berbeda JAAAUUUUHH, dan jangan dibilang "sedikit". "Saya sama Nabi beda ’sedikit’", "kamu sama nabi beda sedikit?", "bagaimana maksudnya?", "loh, Nabi itu makan sedikit, kalau saya ’sedikit-sedikit’ makan, Nabi itu tidur sedikit, kalau saya ’sedikit sedikit tidur, naa kan beda sedikit".

Nabi itu Agung, apanya yang agung?, keturunannya agung, kelahirannya agung, kehidupannya dari kecil hingga wafat agung, akhlak dan perilakunya agung. Jasadnyapun agung, jasad kita pun agung (keramat) juga, "laqod karromna banii adam", " Sungguh telah Aku keramatkan (telah muliakan) jasad bani adam". Jadi jasad kita pun agung juga, haram dimakan. Kenapa kita tidak boleh makan daging manusia? Karena dikeramatkan Allah, dan bukan karena najis, karena daging manusia tidak najis. Makan babi tidak boleh karena najis, makan anjing tidak boleh karena najis, makan darah tidak boleh karena darah itu najis.

Diharamkannya makanan oleh fiqih itu minimal 3 perkara, perkara pertama sebab najis, seperti, babi, anjing, darah, yang kedua adalah yang dapat menyebabkan mudhorat (menimbulkan bahaya), misalnya paku, racun, narkoba, minuman keras. Ketiga adalah karena kemuliaannya (kekeramatannya) yaitu manusia (dagingnya, air maninya, tidak boleh dimakan atau diminum, haram, dan bukan karena najis) kalau air mani najis berarti kita berasal dari benda najis, sedangkan kita ini tidak najis, air mani itu suci, makanya kita ini dilahirkan suci, karena kalau asalnya najis, kita pun jadi najis. Suci tapi ada yang minum?, pasti tidak mau karena jijik. Karena mulia maka diharamkan Allah.

Jasad kita saja mulia, apalagi jasadnya Nabi Muhammad Saw. Serupa kita sama sama manusia tapi berbeda "jaaauuuuh" dengan Nabi Muhammad. Jasad nabi Muhammad dalam kubur tidak busuk, "Sesungguhnya tanah tidak memakan jasad para nabi dan para rasul", bahkan jasadnya para syuhada juga tidak dimakan oleh tanah.

Waktu terjadi banjir di madinah, kuburan 70 orang keluarga perang uhud itu kena banjir, mayatnya timbul keluar, masih utuh karena dikubur dipasir. Sampai banjir surut, darahnya masih mengalir harum. Terus dikubur lagi, tapi sudah tidak ditandai nama nama mayat tsb, yang ditandai karena dikenali cuma 2, yaitu Hamzah karena diketahui dadanya bolong dan jantungnya tidak ada karena telah dimakan oleh hindun, badannya tinggi besar. Jasadnya masih berdarah, dan harum, bahkan tangannya masih menutup lukanya dilambung yang terkena tombak, yang masih keluar darah, walaupun sudah beberapa ribu tahun. Dan yang satu lagi adalah Abdullah bin Jaz karena diketahui kuping dan hidungnya terpotong-potong karena diikat benang. Kedua orang inilah yang sekarang nisannya ada di Uhud. Jadi kalau sekarang kita berziarah ke gunung uhud, hanya ada 2 nisan saja.

Hadis shohih mengatakan jasad para nabi dan rasul tidak dimakan oleh tanah, dan hal ini dibuktikan Al qur’an sebagaimana yang terdapat dalam kisah nabi Sulaiman AS. Nabi Sulaiman ketika sudah mau wafat, dia berpegangan kepada tongkatnya sambil tersenyum memandang jin yang sedang bekerja membangun istana Sulaiman (haikal Sulaiman), termasuk masjidil aqso. Setelah nabi Sulaiman wafat, jin-jin tersebut tidak mengetahui sehingga mereka bekerja terus siang dan malam karena merasa diperhatikan oleh nabi Sulaiman yang tidak bergerak-gerak sambil tersenyum, sampai akhirnya nabi Sulaiman jatuh tersungkur karena tongkatnya keropos dimakan oleh rayap.

Sebagaimana yang telah kita ketahui, tongkat raja pasti kalau disini diserupakan dengan kayu jati, yang keras, atau kayu cendana, tapi kalau disana namanya kayu Kokaa, keistimewaannya karena mampu untuk menahan serangan dari sihir. Allah meletakkan barokah dimana Allah mau, kadang di air, kadang di kayu, dan salah satunya kayu kokaa seperti tongkat nabi Sulaiman dan tongkat nabi Musa, sehingga jin pun tidak berani.

Dan hal tersebut membuktikan bahwa jasad nabi Sulaiman tidak busuk, karena kalau busuk, 2 sampai 3 hari sudah bau, tapi ini berpuluh-puluh tahun sampai tongkatnya keropos dimakan rayap dan jatuh tersungkur. Setelah itu para jin baru tahu bahwa nabi sulaiman telah wafat sambil berkata, "Ah, seandainya kami tahu tentang hal hal yang gaib, pasti kami tidak akan meneruskan perintah dari nabi Sulaiman ini, sungguh kami terhina gara gara hal ini (bahwa mereka tidak mengetahui tentang hal yang gaib) sehingga tidak menyadari bahwa Nabi Sulaiman telah wafat",

Inilah yang menyebabkan, satu dalil yang shohih dari pada Al qur an, bahwa keyakinan kita sebagai Ahlus sunnah wal jam’ah akan jasad nabi dan rasul tidak hancur dimakan tanah dan tidak busuk. Dan hal ini bukan tahyul (kurafat), karena ini adalah iman yang shohih berdasarkan penjelasan dari Al qur an dan sunnah rasul, dan ada dalil dalil yang mendukung hal tersebut.

Bisakah jasad kita tidak dimakan oleh tanah?, Bisa kalau kita sholeh, hafiz Al quran, mati syahid, atau kita istiqomah dalam agama sampai mati, "Innalladziina qoolu robbunallah tsummas taqoomu tatanazzalu alaihimul malaaikah alla takhoofu wala tahzanu, wa absyiruu bil jannatil latii kuntum tuu ’aduun." "sesungguhnya bagi orang orang yang telah mengatakan, Rob kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah didalamnya, maka kami akan menurunkan kepada mereka malaikat malaikat, tidak akan ada ketakutan dan kegelisahan pada diri mereka, dan kabarkanlah kepada mereka akan surga yang telah dijanjikan" (surah haamiim assajadah).

Nabi Muhammad adalah manusia pilihan (mustofa), dipilih, mukhtar, dan bukan sembarang manusia, sebab dari sekian miliar manusia yang ada di bumi, beliaulah yang dipilih Allah untuk menjadi nabi penutup, khotamun nabiyyin, sayyidul anbiya’ wal mursaliin, penghulunya para rasul dan nabi, sayyidul ’anam, sayyidul bani adam, penghulu seluruh manusia dari nabi adam sampai hari kiamat.

Jadi Nabi Muhammad saw itu agung, pangkatnya tertinggi, walaupun ia sama dengan nabi dan rasul yang lain, "Laa nu farriqu baina ahadim min rusulih,.." Allah tidak membeda bedakan antara rasul yang satu dengan yang lain, tetapi Allah berhak untuk memberikan kelebihan antara satu rasul dengan rasul rasul yang lain,

Ada 124.000 nabi dan rasul, 313 rasul, dan hanya 25 yang ada di al quran sehingga wajib kita kenal, walau tidak berurutan, karena kalau tidak kurang sempurnalah rukun iman yang keempat kita. Dan walaupun ada paham yang mengatakan bahwa nabi adam bukan nabi karena dia tidak punya ummat adalah salah, karena ummatnya nabi adam adalah para jin yang telah terlebih dahulu sebagai penguasa dunia dan mendiami bumi ini, yang karena suka ribut dan saling membunuh antar sesama, ditukar oleh Allah dengan kita, makhluk yang dinamakan manusia sebagai khalifah berikutnya di bumi.

"Inni jaa’ilun fil ardhi, kholiifah"."Sungguh akan Aku kirimkan ke bumi kholifah" Terus malaikat bertanya, "qoolu ataj ’alu fii ha man yupsidu fii ha wayas fi quddima’. "akankah Engkau yaa Allah akan mengirimkan ke dunia itu, makhluk yang akan berbuat kerusakan dan saling bunuh membunuh dan menumpahkan darah saja?", Berdasarkan dari tafsir Jalaalaen dikatakan "wa hum ahlul jaan", mereka yang telah berbunuh bunuhan sebelum manusia datang adalah para jin.

Nabi nabi tersebut ada yang dikisahkan kepada kita dan ada yang tidak dikisahkan kepada kita, seperti nabi Khidr, nabi Armaya, nabi Samuel (nabi yang telah membesarkan nabi Daud AS, yang telah memilihkan panglima perang orang Yahudi untuk melawan Jalut, ketemulah Tholut, berdasarkan alquran surah Albaqarah, ketika mereka bertanya kepada nabi mereka, kirim kepada kami seorang nabi sekaligus pemimpin yang kuat agar kami berperang melawan musuh musuh Allah untuk merebut Thabut lagi, lalu dipilihlah Tholut, yang kuat dalam ilmu dan jasadnya, jadi pemimpin itu harus ilmunya tinggi dan jasadnya sehat, jangan memilih pemimpin sebaliknya, yang tua dan lemah, sebagaimana Allah telah mencontohkan dalam Al quran tentang Tholut.) Jadi Nabi nabi dan rasul tersebut ada yang dalam satu zaman, seperti nabi Samuel dengan Nabi Daud dan anaknya, Nabi Sulaiman. Nabi Syu’aib dan menantunya, Nabi Musa beserta saudaranya yaitu Nabi Harun. Nabi Ishaq bersaudara kandung dengan Nabi Ismail yaitu satu bapak (Nabi Ibrahim) tapi lain ibu.

Dan dari 25 Rasul yang wajib kita kenal itu ada 5 yang termasuk Ulul Azmi (Rasul yang sangat menderita dan bertahan dalam penderitaannya sebagai seorang Rasul), yaitu yang pertama Nabi Nuh (950 Tahun berdakwah siang malam), yang kedua adalah Nabi Ibrahim (yang bapaknya sendiri, Azar, kafir dan bekerja sebagai pembuat patung berhala dan telah mengusir Nabi Ibrahim. Dari mulai lahir di Mesopotamia, Irak, Palestina, Mesir, hingga ke India, yang berubah namanya menjadi "Brahma", dan istrinya Sarah yang cantik bagai dewi, sebagaimana disebutkan dalam hadist bahwa kecantikan Siti Sarah seperti sepertiga kecantikan wanita di dunia, yang di India disebut sebagai "Sara Swati".Ketiga adalah Nabi Musa, keempat adalah Nabi Isa, dan kelima adalah Nabi Muhammad SAW.

Jadi diketahui bahwa Nabi Muhammad adalah dari keturunan yang akhlaknya terpuji mulai dari Nabi Ibrahim dan tidak ada dari yang akhlaknya buruk / tercela walaupun ditengah tengah masyarakat yang akhlaknya rusak. Sesuai dengan perkataan Nabi, bahwa "keturunanku tidak pernah dihinggapi oleh millah Jahiliyyah sedikitpun". Nama silsilah Nabi Muhammad Saw adalah, Muhammad saw bin Abdullah bin Abdul Mutholib (Syaibah) bin Hasyim (Al Amru) bin Abdul Manaf bin Khusail bin Kilab bin Murroh bin Ka’ab bin Luwai bin Ghorib bin Fihir (Quraesy) bin Malik bin Nador bin Kinanah bin Khuzaiman bin Muidz bin Adnan ....terus sampai bin Ibrahim AS.

Bapak Nabi Muhammad, yakni Abdullah, walaupun di tengah tengah orang yang suka mabuk dan bebas berzinah, tetapi tidak ikut ikutan menjadi pemabuk dan berzinah, hingga umur 25 tahun, menikahi Siti Aminah di Madinah (salah satu anak dari pamannya, waktu itu belum turun ayat tentang hukum pernikahan, jadi hukum tersebut belum berlaku). Setelah menikah dan berdagang untuk mencari nafkah, disaat istri beliau Aminah sedang hamil, beliau sakit dan wafat di Madinah, dikuburkan disebuah jalan kecil yang disebut "Tua".

Selanjutnya yang cukup dikenal pada masanya pada salah satu keturunan Nabi adalah Al Amru (bapak dari kakek Nabi yaitu Abdul Mutholib dan nenek moyang dari bani Abdul Manaf,) yang terpilih sebagai orang yang mengurus pembagian jamuan makan dan minum (sukoyah) kepada para Jamaah Haji pada waktu itu. Al Amru adalah orang yang gagah, jujur, dan pemurah sehingga sangat terkenal sekali di jazirah arab pada waktu itu. Beliau adalah orang pertama yang memberikan makan pada jamaah haji dengan memasak roti kemudian dipecah pecah (Hasyim/pemecah roti). Dia juga yang telah mempelopori perjalanan dagang untuk kaumnya yang sedang dalam kehidupan yang melarat, biar bisa makan yang enak dan memiliki cukup harta. Dia mempelopori perjalanan pada musim panas (ke Syam / Suriah) selama 4 bulan perjalanan, dan setelah itu beristirahat selama 2 bulan di mekkah, kembali melanjutkan perjalanan perdagangan ke Yaman. Yang karena hal itulah kaum Quraesy terkenal sebagai kafilah dagang baik di musim panas maupun di musim dingin. Pada saat itu bangsa bangsa lain tidak mau menjajah Arab karena terkenal penduduknya dan lingkungannya miskin, bahkan rakyatnya sendiri tidak takut dan tunduk kepada rajanya, sehingga pada masa itu tidak ada raja, hanya ada kepala suku yang bertanggung jawab untuk memberikan makan kepada rakyatnya. Dan berdasarkan sejarah, berdirinya kerajaan Saudi Arabia karena bekerja sama dengan Inggris membasmi puluhan ribu tentara Turki.

Jadi diketahui bahwa roti bukan berasal dari Eropah, tetapi berasal dari Timur tengah, yakni bangsa Arab yang telah menanam gandum di tepi tepi sungai Nil, sementara orang Eropah pada saat itu masih memakan daging mentah/dibakar saja. Yang memperkenalkan roti dan ilmu berhitung ke Eropah adalah orang Arab, dan yang mengenalkan abjad / tulisan ke Eropah adalah orang Romawi.

Satu kali Hasyim ketika sedang dalam perjalanan ke Syam pada musim panas, beliau singgah di Madinah dan menikah dengan seorang gadis bernama Salmah binti Amru bin Najar dan melahirkan putra yang bernama Syaibah (yang artinya orang yang berambut putih/beruban) dan Hasyim pun wafat ketika berdagang di Palestina ketika akan berdagang menuju Yaman. Sementara kelahiran Syaibah sampai dia usia remaja tidak diketahui oleh keluarga Hasyim di Mekkah karena belum mengenal alat komunikasi seperti sekarang ini. Syaibah memiliki 3 orang saudara laki-laki di Mekkah tapi lain ibu, artinya Hasyim di Mekkah juga mempunyai istri juga, yang bernama Asad, Abu Syayufi, dan Nahdzoh. Dan 4 orang saudara perempuan yaitu Nadlah, Assyaifa, Khoda’, Daifah, Ruqoyyah, dan Jannah.

Setelah Hasyim wafat, urusan memberi makan kepada para jamaah Haji (Suqoyyah) dan mengepalai suku Quraesy, diambil alih oleh saudara kandung Hasyim yaitu Al Mutholib bin Abdul Manaf, seorang yang sangat dermawan/pemurah yang terkenal dengan sebutan Al Fayyath, artinya "yang sangat pemurah".

Pada suatu hari Al Mutholib ketika tiba di Madinah, ia bertemu dengan Salmah, istrinya Hasyim di Madinah, dan anaknya Syaibah. Sehingga beliau meminta agar Salmah mengijinkan anaknya Syaibah untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai seorang Suqoyyah di Mekkah, karena dilihat postur tubuhnya yang cukup kekar dibandingkan dengan saudaranya yang lain, sehingga sangat diharapkan untuk bisa memimpin suku Quraesy. Syaibah disebut Abdul Mutholib (budaknya dari Al Mutholib) karena ketika tiba di Mekkah, suku Quraesy mengira Syaibah adalah budaknya Al Mutholib.

Al Mutholib wafat di sebuah kampung bernama Radman ketika dalam perjalanan dagang musim dingin ke Yaman. Setelah wafat, harta dan posisi Suqoyyah dirampas oleh saudara kandung Al Mutholib, yaitu Naufal, masih termasuk pamannya Abdul Mutholib sendiri. Lalu Abdul Mutholib melapor ke saudara-saudara dari ibunya di Madinah. Mendengar hal tersebut, saudara ibunya yang bernama Sa’ad bin Adi, datang dengan 80 pasukan lengkap dengan kuda dan onta, untuk menaklukkan Naufal di Mekkah dan mengembalikan harta dan kedudukan Suqoyyah kembali ke Abdul Mutholib.

Abdul Mutholib adalah orang yang telah menemukan sumur zamzam setelah kering ratusan tahun, ketika semua orang telah menyembah berhala. Setelah berdo’a terus menerus agar sumur tersebut ditemukan, Abdul Mutholib bersama Al Hariits (kakaknya Abdullah, ayah nabi Muhammad), menggali tempat yang sesuai dengan petunjuk yang didapat dari mimpinya tersebut (diantara patung Isyaf dan Laila, sembahannya kaum Quraesy), sambil ditertawakan oleh orang-orang Quraesy. Setelah berhari-hari menggali, akhirnya ditemukanlah sumber air yang diketahui adalah sumur air zamzam tersebut. Dan dari hasil galian tersebut juga terdapatlah barang pusaka suku Quraesy, berupa pedang-pedang, perisai-perisai, dan 2 buah patung kijang yang terbuat dari Emas.

Dahulu sewaktu masih zamannya Mekkah dikuasai oleh Turki, umat Islam yang ingin pergi Haji dapat melaksakannya dengan gratis, karena semua makan dan minumnya ditanggung oleh Penguasa dari Turki yang khusus menangani Ibadah Haji yang disebut dengan Syekh, yang kemudian menuntun para jamaah haji tersebut dalam melaksanakan setiap kegiatan dalam ibadah haji tanpa mengeluarkan sepersenpun uang alias gratis.

Di jaman Abdul Mutholib ini datanglah tentara gajah dari Yaman, yang dipimpin oleh Abrahah, seorang Negro, sebagaimana yang diperlihatkan oleh Allah kepada nabi Muhammad, tubuhnya tinggi dan agak bongkok, matanya mbendil, rambutnya keriting dan kulitnya hitam. Dialah yang bercita-cita ingin memindahkan Ka’bah ke Yaman, supaya orang berhaji pindah ke Yaman di kota San’an, yang sampai sekarang bangunan Ka’bah buatan Abrahah ini masih ada, tapi sudah nampak seperti kurang terurus lagi dan jadi tempat pembuangan sampah orang orang Yaman.

Melihat pasukan ini, Abdul Mutholib berkata kepada kaumnya untuk menyingkir dari Mekkah dan menyerahkan Ka’bah sepenuhnya kepada sang pemilik Ka’bah, yaitu Allah SWT. Ketika pasukan ini sampai di Muzdalifah, kira kira 8 km dari Mekkah, datanglah pasukan burung ababil membawa batu di kakinya dan melempari pasukan Gajah tersebut sehingga siapa saja yang terkena batu itu, tubuhnya langsung hancur berlobang seperti daun yang dimamah oleh ulat sebagaimana diceritakan oleh Alqur’an dalam surat Al Fiil yang berarti "Pasukan Gajah". Dan beberapa bulan setelah kejadian tersebut, dalam bulan Robbi’ul Awwal, Rasulullah Muhammad saw lahir.

Pertanyaan : Benarkah jasad Rasul tidak hancur ?
Jawab: Pernah terjadi pada zaman Sultan Sholahuddin Al Ayyubi, ketika perang Salib, orang Kristen mengirim 2 orang anggotanya yang berwajah seperti orang Arab, datang ke Madinah dan tinggal serta bergaul dengan orang-orang Madinah. Dan pada suatu hari, sang Penguasa Madinah bermimpi bahwa telah datang Rasulullah kepadanya dan meminta kepadanya untuk menyelamatkan jasad beliau dari 2 orang yang ditunjukkan wajahnya. Setelah mimpi tersebut berkali kali dialaminya, akhirnya beliau memanggil seluruh warga Madinah untuk berkumpul dan bersalaman kepadanya satu persatu.

Akhirnya setelah diketahui, kedua orang tersebut ternyata telah membuat suatu terowongan yang mengarah ke makam Nabi Muhammad dan berencana untuk mencuri jasad beliau karena mereka berkeyakinan kalau jasad Nabi tidak hancur dan setelah jasad tesebut dicuri oleh mereka, maka pasukan Islam akan menyerah. Setelah diketahui hal tersebut, maka kedua orang Kristen itu akhirnya dihukum pancung, dan Raja Mesir waktu itu menyuruh pemerintah Madinah untuk membuat batasan berupa campuran beton dan perunggu jauh kedalam tanah untuk melindungi jasad Nabi Muhammad dan keempat sahabatnya dari pencurian.
.
Sebagaimana firman Allah, "walikulli ummatin ajal.." dan bagi setiap umat / bangsa ada waktu berakhirnya. "Izaa jaa’a ajaluha laa yastkhiruuna saa’ah walaa yas taqdimuun " jika datang ajalnya pada kaum itu, maka tidak akan bisa di tawar walaupun Cuma satu detik. Sebagaimana sejarah telah membuktikan bahwa kejayaan dari setiap bangsa itu terus berganti, mulai dari bangsa Zentium/Parsi/Persia (Iran), Romawi, Mongol, Perancis, Inggris, Jepang, Jerman (Perang Dunia II), dan Amerika (sekarang), Cina, serta Melayu (Kamboja, Maluku, Madagaskar, Taiwan, Singapura).



Dikirim pada 08 Januari 2010 di Al-Qur’an
Awal « 1 » Akhir
Profile

menyukai dunia perpantunan ya sebagai refresh tuk otak....hehehe More About me

Page
BlogRoll
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 44.598 kali


connect with ABATASA